Sabtu, 11 Januari 2014

Kepemimpinan

KEPEMIMPI

NAN HMI SEKARANG DAN AKAN DATANG SEBAGAI

TAFSIR FUTURISTIK PERWUJUDAN MASYARAKAT MADANI


 
A.     Pendahuluan
Perjalanan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah mencapai usia 67 tahun, tentunya sudah banyak merambas kader-kadernya baik di kota, pedesaaan bahkan di luar negeri. Sehingga tidak bisa kita pungkiri sudah banyak peran kader HMI dalam perkembangan bangsa atau tanah air yang kita cintai ini.
Jika kita lihat latar belakang mulanya berdiri organisasi mahasiswa ini, tidak lain untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mempertinggi derajat ummat Islam. Tujuan dasar inilah yang selalu membuat kader HMI merasa bertanggung jawab untuk mengemban missi itu, secara sederhana jika kita lihat para kader HMI sudah berada di segala sisi, mulai dari, Pegawai, Pengusaha, Dosen, dan lain sebagainya. Semua itu diharapkan untuk bisa mencapai missi HMI sendiri.[1]
Dalam catatan sejarah seorang Jenderal Soedirman yang berpidato pada upacara Dies Natalis HMI ke-1 tahun 1948 di Yogyakarta beliau berkata: “HMI bukan saja merupakan Harapan Masyarakat Islam tetapi juga Masyarakat Indonesia”. Agakanya harapan masyarakat itu tak akan sia-sia, oleh karena kesadaran sejarah cukup arif dihayati oleh kalangan HMI. Mereka menginsyafi betapa HMI telah berperan sejak dilahirkan.[2]
Tanggungjawab kader HMI untuk menjaga nama baik negara ini sangat besar, sehingga tidak ada kata tidak bagi kader HMI lari dari tanggungjawab itu, sebab ketika seorang mahasiswa sajapun yang baru selesai mengikuti training formal pertama atau Latihan Kader I, selalu diingatkan bahwa ia mempunyai tanggung jawab yang berat yaitu sebagai kader ummat dan kader bangsa.
Sifat independen HMI yang menjadi sejata pamungkas, tentunya membuat HMI tampil beda dengan organisasi-organisasi lain, dimana HMI bersifat bebas baik berbuat, dalam seluruh aspek kehidupan, bebas bukan berarti semena-mena tetapi ada aturan yang harus dipatuhi kader HMI sehingga ia cendrung kepada hanif (kebenaran).
Hari ini masalah independensi kader HMI menjadi perbincangan yang tidak habis-habis dalam internal HMI sendiri. Sering sekali kader HMI hilang sifat independennya ketika ia dihadapkan dengan dunia lapangan, maka timbul pertanyaan dalam benak penulis apakah penyebab terjadinya kasus-kasus seperti di atas. Perlu dipikirkan, pada hakikatnya pernan Kepemimpinan sangat urgen dalam mengontrol prilaku kader HMI, sehingga ia bisa mengontrol hawa nafsunya dan bukan dikontrol hawa nafsu itu sendiri. Umur HMI yang semakin tua punya peranan penting untuk mewujudkan masyarakat nadani, tapi apakah kader HMI saat ini bisa mewujudkan masyarakat Madani? Saya pikir pertanyaan yang sederhana itulah yang membuat penulis tertarik untuk menulis makalah ini.
B.     Kepemimpinan
  1. Pengertian
Para ilmuan yang menekuni masalah-masalah kepemimpinan telah melakukan banyak penelitian tentang berbagai segi kepemimpinan. Berbagai hasil penelitian tersebut telah memungkinkan masyarakat modern memiliki berbagai acuan ilmiah yang secara teoritikal memberikan gambaran tentang betapa pentingnya kepemimpinan yang efektif dalam kehidupan organisasional, baik dibidang keniagaan, dibidang politik, bahkan juga bidang keagamaan dan bidang organisasi-organisasi social yang sifatnya nirlaba. Pendeknya gambaran yang semakin jelas tentang esensilia kepemimpinan untuk semua jenis organisasi terlepas dari tujuannya, sifatnya, dan besar kecilnya.
Kekuasaan adalah tema sentral politik, tak ada perdebatan yang lebih penting dalam ilmu politik selain menguasai kekuasaan. Kekuasaan dengan berbagai demensinya, selalu menjadi acuan seorang pemimpin dalam setiap geraknya. Ada yang melihat kekuasaan sebagai sekedar cara mencapai tujuan, namun lebih banyak yang melihat kekuasaan sebagai tujuan.[3]
Dalam kepemimpinan ini terdapat hubungan antar manusia, yiatu hubungan saling mempengaruhi (dari pemimpin) dan hubungan kepatuhan-ketaatan para pengikut para pengikut/bawahan karena dipengaruhi oleh kewibawaan pemimpin. Para pengikut terkena pengaruh kekuatan dari pemimpinnya, dan bangkitlah secara spontan rasa ketaatan pada pemimpin.
Pada dasarnya kepemimpinan dalam diri seseorang sangat urgen, sebab kepemimpinan modal dasar untuk menjalani hidup lebih baik dan terarah. Sifat ini seogianya dimiliki para kader Insan Cita, agar bisa merangkul dan memberdayakan orang lain, untuk mencapai tujuan tertentu. Defenisi tentang kepemimpinan sudah banyak pakar yang mendefenisikan hal tersebut yaitu:
1.      R.D Agrawal mendefenisikan kepemimpinan adalah seni mempengaruhi orang lain untuk mengarahkan kemauan mereka, kemampuan dan usaha, untuk mencapai tujuan pimpinan. Hubungannya dalam organisasi, kepemimpinan terletak pada usaha mempengaruhi individu, dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi secara optimal.
2.      Plunkett dan Attner mengemukakan : “Process of influencing group or individual to set goal or achieve a goal”. Proses mempengaruhi kelompok atau individu untuk menetapkan tujuan atau mencapai tujuan.
3.      Irancevich dan kawan-kawan, mendefenisikan kepemimpinan sebagai kemampuan mempengaruhi aktivitas orang lain melalui komunikasi, baik individual maupun kelompok kearah pencapaian tujuan.[4]
4.      Kepemimpinan adalah suatu pertumbuhan alami dari orang-orang yang berserikat untuk suatu tujuan dalam suatu kelompok.[5]
5.      Dalam bukunya Nasir Budiman yang berjudul “Kepemimpinan Dalam Islam” bahwa Kepemimpinan berasal dari kata “Pemimpin” yang mendapat imbuhan “Ke” dan “an” yang mengandung pengetian, yaitu orang yang menjalankan suatu aktivitas atau mengarahakan orang lain dalam berbagai kegiatan dan organisasi, baik formal maupun non-formal, komersial ataupun sosial  untuk memenuhi cita-cita dan tujuan sebagaiimana diharapkan.[6]
Beberapa defenisi kepemimpinan di atas, dapat dipahami bahwa kepemimpinan usaha mempengaruhi orang lain, untuk mencapai misi organisasi itu sendiri, kepemimpinan selalu melibatkan orang lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dimana ada pemimpin maka disana ada pengikut. Maka kemampuan mempengaruhi orang lain merupakan inti dari kepemimpinan.
Untuk dapat mempengaruhi orang lain, pemimpin perlu mengetahui beberapa strategi antara lain:
a.       Menggunakan fakta dan data untuk mengemukakan argument dan alasan yang logis.
b.      Bersikap bersahabat dan mendukung upaya yang baik dalam organisasi
c.       Memobilisasi atau mengaktifkan orang lain untuk melaksanakan pekerjaan.
d.      Melakukan negoisasi
e.       Menggunakan pendekatan langsung dan kalau terpaksa menggunakan paksaan
f.        Memperoleh dukungan dari atasan atau orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dalam organisasi
g.       Memberikan sanksi dan hukuman terhadap perilaku yang menyimpang.[7]
Kepemimpinan mengharuskan seorang pemimpin mempengaruhi dua perhatian secara simultan yaitu: Tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok dan individu, kebutuhan dan harapan dari kelompok dan individu.
b.      Fungsi Kepemimpinan
Seorang pemimpin harusnya memahami apa sebenarnya fungsi kepemimpinan itu sendiri sehingga ia tidak berbuat sesuka hatinya melainkan sesuai dengan fungsi kepemimpinan itu sendiri, adapun fungsi kepemimpinan itu ialah sebagai berikut:
1)      Fungsi Instruktif
Setiap pemimpin perlu memiliki kemampuan dalam memberikan perintah yang bersifat komunikatif, agar dilaksanakan menjadi kegiatan oleh orang yang menerima perintahnya. Fungsi ini bersifat satu arah, namun harus komunikatif karena sekurang-kurangnya harus dimengerti oleh anggota organisasi yang menerima perintah. Sejalan dengan itu Allah SWT berfirman dalam surah an-Naml ayat 32-33 yaitu:
ôMs9$s% $pkšr'¯»tƒ (#àsn=yJø9$# ÎTqçGøùr& þÎû ̍øBr& $tB àMZà2 ºpyèÏÛ$s% #öDr& 4Ó®Lym Èbrßuhô±n@ ÇÌËÈ   (#qä9$s% ß`øtwU (#qä9'ré& ;o§qè% (#qä9'ré&ur <¨ù't/ 7ƒÏx© ãøBF{$#ur Å7øs9Î) ̍ÝàR$$sù #sŒ$tB tûï̍ãBù's? ÇÌÌÈ  
             
Artinya:  Berkata Dia (Balqis): "Hai Para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)".
                    Mereka menjawab: "Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: Maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan".[8]
Firman tersebut menggambarkan kepada kita bahwa Ratu Balqis sebagai pemimpin sedang melaksnakan fungsi kepemimpinan instruktifnya.
2)      Fungsi konsultatif
Fungsi ini bersifat dua arah, sebab berlangsung interaksi antara pemimpin dan anggota organisasinya. Fungsi konsultatif dapat diwujudkan pemimpin dalam menghimpun bahan sebagai masukan apabila akan menetapkan berbagai keputusan penting dan bersifat strategis. Untuk itu pemimpin perlu mengadakan konsultasi dengan anggota organisasinya, baik secara terbatas maupun secara meluas sebelum keputusan ditetapkan.
Fungsi ini harus dilakukan secara teratur dan hasilnya akan dimanfaatkan, bukan saja akan menghasilkan keputusan yang tepat tetapi juga akan mendapat dukungan dari anggota organisasi dalam pelaksanaannya. Sehingga dampaknya ini pun sangat bersinergi untuk memudahkan dalam melaksanakan fungsi instruktif, sebab semua anggota akan merasa bertanggung jawab dalam mensukseskan pelaksanaan keputusan yang telah ditetapkan.
3)      Fungsi partisipasi
Fungsi ini bukan sebatas komunikasi dua arah, tetapi juga merupakan perwujudan hubungan manusiawi. Pemimpin dalam menjalankan tugas harus berusaha mengaktifkan suluruh anggota organisasinya, sehingga selalu terdorong untuk berkomunikasi, baik secara horizontal maupun vertical. Anggota didorong terus agar aktif melaksanakan tugas pokokna sesuai dengan posisi dan wewenang masing-masing.
4)      Fungsi delegasi
Setiap pemimpin tentunya tidak melaksanakan tugas organisasi sendiri, melainkan ada anggota, atau pengurus yang siap untuk membantu pimpinan, maka seogianya pemimpin harus memberikan izin pada anggota organisasi dalam posisi tertentu untuk menetapkan keputusan, selain itu juga fungsi delegasi ini bisa diberikan pemimpin kepada anggota saat ada kegiatan yang harus diikuti.
5)      Fungsi pengendalian
 yang bersifat pengendalian dilakukan pada saat kegiatan berlagsung, dengan maksud preventif yakni mencegah terjadinya penyimpangan atau kekeliruan dalam melaksanakan keputusan atau perintah pimpinan. Pengawasan pun harus dilakukan juga pada kegiatan organisasi yang bersifat rutin, bahkan juga terhadap pelaksanaan etika organisasi.
6)      Fungsi keteladanan
Pemimpin dituntut selalu menampilkan sikap dan perilaku terbaik, sesuai dengan norma-norma yang berlaku di lingkungan organisasinya (termasuk kode etik kalau ada). [9] Disamping itu harus pula dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakat atau di lingkungan bangsanya. Secara khusus karena HMI adalah organisasi mahasiswa yang berbasis Islam, sudah sewajarnya seorang pemimpin di HMI harus selalu mematuhi aturan-aturan yang diperintahkan dan meninggalkan larangan Allah SWT.
Jika kita pahami secara komprehensif dari berbagai fungsi kepemimpin dalam hidup ini jelas, untuk mengarahkan kita kepada kebijakan, dimana kebijakan cendrung kepada kebenaran. Sehingga kebenaran yang dimiliki setiap kader sang Hijau Hitam selalu terpatrah kepada kebenaran yang diimpikan masyarakat, khususnya di Indonesia ini.
c.       Tugas Pemimpin
Hamzah Ya’cub sebagaimana dikutip oleh M. Amin, menjelaskan tugas-tugas seorang pemimpin sebagai berikut :[10]
1.      Memelihara amanah
Amanah yang dimaksud di atas adalah Amanah Allah dan rasul-Nya sebagaimana Hadis Nabi ;
وانها امانة وانها يوم القيامة خزي وندامة الا من اخذها  بحقها وادى الذى فيها.[11]
Artinya : ”Sesungguhnyau (kepengurusan) itu adalah amanah, dan sesungguhnya hari kiamat merupakan malu dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan baik dan melaksanakan tugas kewajibannya dengan baik”.
Amanah yang telah diberikan pada pemimpin supaya dilaksanakan dan jangan ditinggalkan sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Anfal ayat 27 :
     $pkšr'¯»tƒ z`ƒÏ©$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qçRqèƒrB ©!$# tAqß§9$#ur (#þqçRqèƒrBur öNä3ÏG»oY»tBr& öNçFRr&ur tbqßJn=÷ès? ÇËÐÈ  
Artinya : “27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
Amanah menjadi pemimpin di organisasi, baik dalam skala kecil maupun besar adalah merupakan sebuah pemberian dan karunia dari Allah SWT. Pada dasarnya Allah-lah yang memberikan jabatan, kedudukan dan derajat yang tinggi. Apabila kedudukan kita sedsang berada di atas, maka gunakanlah kesempatan kepemimpinan itu untuk melayani rakyat, melayani anggota dan bawahan dengan baik dan sesempurna mungkin. Tunaikanlah hak dan kewajiban mereka, karena yang demikian merupakan perintah dari sang Khaliq.
Terdapat riwayat yang bersumber dari Mu’qil bin Yasar, ia berkata aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
Yang Artinya : “Tidak seorang pemimpin pun yang diberikan Allah amanah untuk menjadi pemimpin yang mengurusi kaum muslimin, lalu ia meninggal dunia sedang ia curang kepada mereka (tidak adil/korupsi) kecuali Allah akan mengharamkan pemimpin itu masuk sorga.” (HR. Bukhari dan Muslim)[12]
Dari hadits tersebut diatas, dapat dipahami bahwa ada semacam penekanan pada pemimpin untuk senantiasa menjalankan amanah kepemimpinan dan tidak curang atau menyelewengkan amanah tersebut, karena konsekwensinya adalah Allah akan mengharamkannya masuk ke sorga.
2.      Memberi Petunjuk
Memberi petunjuk atau perintah pada orang lain merupakan suatu keharusan bagi tugas seorang pemimpin. Dalam menyampaikan perintah ini seorang pemimpin harus mempunyai keberanian dan juga harus lebih tahu dari yang diperintah. Firman Allah dalam surat al-Anbiya ayat 73 ;
öNßg»uZù=yèy_ur Zp£Jͬr& šcrßöku $tR̍øBr'Î/ !$uZøŠym÷rr&ur öNÎgøs9Î) Ÿ@÷èÏù ÏNºuŽöyø9$# uQ$s%Î)ur Ío4qn=¢Á9$# uä!$tFƒÎ)ur Ío4qŸ2¨9$# ( (#qçR%x.ur $oYs9 tûïÏÎ7»tã ÇÐÌÈ  
Artinya : “73. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah,”
3.      Menegakkan Hukum
Dalam masyarakat harus ada hukum supaya kehidupan social kemasyarakatan diatur menjadi damai dan tentram, hukum ini harus ditegakkan, khususnya bagi seorang pemimpin, baik itu bersumber dari Alquran maupun hukum-hukum adat yang disepakati masyarakat.
Ancaman bagi penegak hukum yang tidak menegakkan hukum tersebut, dijelaskan Al-quran dalam surat al-Maidah ayat 44 sebagai berikut :
... `tBur óO©9 Oä3øts !$yJÎ/ tAtRr& ª!$# y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÍÍÈ  
Artinya “ 44. …Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
Sebaliknya pemimpin yang lurus dan adil di dalam menjalankan hukum, akan mendapat kehormatan sebagaimana dinyatakan Rasul :
     ان المقسطين عند الله على منابر من نور الذين يعدلون في حكمهم فى اهلهم وماولوا.[13]
Artinya : ”Sesungguhnya orang-orang yang lurus di sisi Allah di atas mimbar-mimbar cahaya, yakni mereka belaku adil dalam menjalankan hukum pada keluarga mereka dan kepada orang-orang mereka pimpin”.
4.      Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Tugas pemimpin yang lain melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar,  yang ma’ruf mendapat kebaikan yang mungkar mendapat keburukan. Oleh karena itu kedua hal ini harus dilaksanakan pemimpin, supaya masyarakat selalu dalam keadaan baik, aman dan tentram menuju kebahagiaan dan menghindarkan malapetaka. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 110 :
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ  
Artinya : “110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
5.      Mendidik
Seorang pemimpin harus dapat mendidik dalam masyarakat. Menjadikan dirinya sebagai contoh di tengah-tengah masyarakat, karena masyarakat memerlukan pedoman yang harus diikuti dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Nabi bersabda :
    انما انا لكم مثل الوالد لولده علمكم
Artinya : “Hubunganku dengan engkau adalah seperti orang tua dengan anaknya, dimana aku mengajarimu”.
6.      Memelihara dan melindungi
Pemimpin harus memberi dan melindungi masyarakat dari ancaman-ancaman dan serangan-serangan yang datang dari musuh-musuh rakyat, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Hadis Nabi mengatakan :
   انكم ستخرصون على الا مارة و ستكون ندامة يوم القيامة فنعم المر ضعة وبئست الفاطمة[14]
Artinya : ”Sesungguhnya kalian sangat ingin pada kekuasaan, padahal ia suatu penyesalan di hari qiyamat. Alangkah baiknya penyusu dan alangkah jahatnya pemutus”.
Kekuasaan itu oleh rasulullah disamakan dengan penyusu terus memberi susu yang hasil, dan kematian oleh rasulullah disamakan dengan pemutus susu. Jadi alangkah baiknya hasil kekuasaan itu dan alangkah jeleknya kematian yang memutuskan hasil itu dan mewajibkan memberi perhitungan.
Oleh karena itulah pemimpin yang tidak memelihara dan tidak melindungi umat, dia tidak termasak pemimpin yang sejati, bahkan pemimpin yang demikian mendapat ancaman dari Allah sebagaimana Hadis Nabi ;
   اللهم  من ولي من امر امتي شيئا فشق  عليهم فاشقق عليه[15]
Artinya ;”Ya Allah, barangsiapa memegang sesuatu dari antara urusan ummatku, lalu ia susahkan mereka, maka susahkanlah dia”.
7.      Bertanggung Jawab
Pemimpin harus bertanggung jawab terhadap segala yang telah dilaksanakannya di tengah masyarakat. Pertanggung jawaban itu bukan hanya kepada rakyat yang dipimpin tetapi juga kepada Allah swt nantinya di akhirat. Melalaikan tanggung jawabnya adalah berarti menyalahi garis kepemimpinan yang di amanahkan kepadanya. Hadis Nabi mengatakan :
 من ولاه شيئا من امور المسلمين فاحتجب عن حاجتهم وفقيرهم احتجب الله دون حاجته.[16]
Artinya : “Barangsiapa Allah serahkan kepadanya suatu urusan muslimin, tetapi ia tidak perhatikan keperluan mereka dan orang-orang fakir mereka, niscaya Allah tidak akan memperhatikan keperluannya”.
C.     Kader HMI dan Ummat
Cadre is a small group of people who are specially chosen and trained for a particular purpose” (AS Hornby). Jadi pengertian kader adalah "sekelompok orang yang terorganisasir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar". [17] Secara sederhana Kader HMI adalah anggota HMI yang telah melalui proses perkaderan, memiliki integritas yang utuh: beriman, berilmu, dan beramal saleh sehingga siap mengemban tugas kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam yang lebih di kenal dengan sebutan HMI, mempunyai tanggung jawab berat dalam hidupnya, tentunya dia punyai tugas yang sering disebut dengan Kualitas Insan Cita, sebab missi HMI sudah termaktub dalam konstitusi HMI pasal 4 dalam Anggaran Dasar HMI yaitu “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi Yang Bernafaskan Islam Dan Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur Yang Diridhoi Allah Swt”.
Selanjutnya penjabaran tentang misi HMI itu dijelaskan pada tafsir tujuan, sebagai berikut Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh HMI  di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan  berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dalam pasal tujuan (pasal 4  AD HMI)  adalah sebagai berikut :
1.   Kualitas Insan Akademis
a.    Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
b.   Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya  dengan kesadaran.
c.    Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis  maupun tekhnis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara  bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.
2.   Kualitas Insan Pencipta : Insan Akademis, Pencipta
a.       sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan  bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan  dan pembaharuan.
b.      Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi, kreatifnya dapat berkembang dan menentukan bentuk yang indah-indah.
c.       Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran Islam.
3.   Kualitas Insan Pengabdi : Insan Akdemis, Pencipta, Pengabdi
a.       Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
b.      Sadar  membawa tugas insan pengabdi, bukannya hanya membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menajdi baik.
c.       Insan akdemis,  pencipta dan mengabdi adalah yang bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya.
4.  Kualitas Insan yang  bernafaskan islam : Insan Akademis, pencipta dan pengabdi yang ber nafaskan Islam
a.       Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menajdi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah menapasi dan menjiwai karyanya.
b.      Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim insan ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya dalam pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.
5. Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT :
a.       Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang ber nafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
b.      Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar  bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.
c.       Spontan dalam menghadapi tugas, responsip dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis.
d.      Rasa tanggungjawab, takwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam me wujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
e.       Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
f.        Percaya pada diri sendiri  dan sadar akan kedudukannya sebagai “khallifah fil ard” yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.[18]
Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “man of future” insan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan  berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara kooperatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. Ideal tipe dari hasil perkaderan HMI adalah “man of inovator” (duta-duta pembantu). Penyuara “idea of progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah SWT. Mereka  itu manusia-manusia uang beriman berilmu dan mampu  beramal  saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil).
Sebagai kader ummat dan kader bangsa semua kader HMI senantiasa melaksanakan tugas-tugas itu secara arif dan bijaksana, untuk mencapai tujuan organisasi secara optimal, maka sudah sewajarnya setiap kader HMI mampu mengemban amanah. Kesuksesan kader HMI dalam berproses suatu hal yang penting untuk memperbaiki kondisi Negara ini,
Kader HMI tidak bisa terlepaskan dengan ummat sekalipun ia organisasi mahasiswa, karena tujuan awal lahirnya HMI itu sendiri, untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mensyiarkan ajaran Islam. Jadi HMI akan selalu bergandengan dengan masyarakat atau ummat untuk mencapai tujuan organisasi itu, salah satu faktor kemunduran HMI disebabkan kader HMI jarang membuat aktivitas yang melibatkan masyarakat,[19] sehingga kita tidak heran jika ada masyarakat yang tidak mengenal HMI sekalipun HMI termasuk organisasi tertua di Negara yang kita cintai ini, yaitu Indonesia.
D.    HMI sekarang dan Akan Datang
Perjalanan organisasi HMI sudah mencapai 65 tahun, tentunya sudah banyak yang diasakan, mulai dari pujian, cemoohan. Pada tahun 1950 pernah HMI mau dibububarkan disebabkan hanya beberapa orang saja yang menjadi pengurus HMI, yaitu, Lafra Pane, A. Dahlan, dan Ranuwiharja. Kampus belum seramai sekarang, malah ada yang terpaksa gulung tikar. MS. Mintarej pergi ke Pasundan, M.Sanusi ke Jakarta Amad Tito Sudirjo berpindah tugas ke bidang militer. Terpaksa Lafran Pane, sebagai perakarsa pendiri HMI, beberapa kali mengambil alih PB HMI, bukan karena ambisi dan cari popularitas, tetapi karena tanggung jawab semata, untuk keberlangsungan hidup HMI yang didirikannya bersama teman-temannya.[20]
Dengan kesabaran, ketekunan, dan keuletan yang tidak kenal lelah serta menyerah. Lafran Pane, Dahlan menghimpun dan membangun kembali sisa-sisa kekuatan yang masih ada dan mungkin diajak, mengkonsolidasikan kembali, sehingga HMI dapat tampil, sebagaimana layaknya suatu organisasi. Beberapa tindakan yang dilakukan pada saat itu, memindahkan kedudukan Pengurus Besar HMI bulan juni 1951 dari Yogyakarta ke Jakarta. Hal  itu merupakan cara yang arif dan bijaksana, merubah dan membawa kepada iklim baru,menuju pertumbuhan dan perkembangan HMI untuk masa-masa mendatang. [21]
Sebagai organisasi kader dan alat perjuangan bangsa dalam mengisi kemerdekaan, pada saat itu HMI selama 13 tahu konsolidasi. Langkah-langkah strategis dan pasti dilaksanakan secara tertib dan konsepsional. Pembinaan anggota, yang diarahkan menjadi seorang sarjana muslim, yang memiliki ilmu pengetahuan dan kecakapan, untuk menjadi kader bangsa. Pembinaan dan penghayatan ajaran agama Islam para anggota merupakan sasaran pokok yang harus dicapai. Tugas kemasyarakatan, dimana manusia sebagai makhluk social, merupakan tugas kemanusiaan sepanjang masa yang merupakan bagian hidup dari setiap manusia mendapat porsi sebagaimana mestinya. Kepentingan individu, penyaruran bakat seperti, kesenian, olahraga, rekreasi, hiburan studi tour, semua itu disalurkan dengan cepat.[22]
Pembinaan anggota HMI pada saat itu meliputi, keislaman, kebangsaan, dan nasionalisme, pemibinaan intelektual, kecintaan, dan kebanggaan terhadap HMI, atau lazim disebut ke-HMI-an, kemasyarakatan, penyaluran bakat dan keinginan, latihan dan perkaderan yang secara terus-menerus lakukan segenap pengurus, baik dari tingkat Komisariat, Cabang, Badko dan juga Pengurus Besar HMI.
Satu cirri khas yang dibina HMI, adanya kebebasan berpikir dikalangan anggotanya, pada hakekatnya timbul pembaharuan, karena adanya pemikiran yang bersifat dinamis dari masing-masing pribadi kader HMI. Sesuai dengan perkembangan nasional bangsa Indonesia yang meliputi bidang politik pendidikan, ekonomi, agama dan kebudayaan. Disebabkan beberapa hal tersebut pergolakan pemikiranpun tidak bisa dibendung bahkan merupakan suatu keharusan. Beberapa faktor yang menimbulkan pemikiran itu, perkembangan dan kemajua tekgnologi modern, perkembangan sosial, ekonomi dan kebudayaan, tumbuh dan berkembangnya pemikiran-pemikiran modern dalam Islam, kemajuan ilmu pengetahuan. Sehingga beberapa masalah pun timbul dikalangan anggota-anggota HMI diantaranya masalah keagamaan, politik, pendidika, ekonomi, kebudayaan, kemasyarakatan, penataan dan pembinaan organisasi, yang hingga kini masih berkelanjutan.
Saat ini HMI sedang dirindung pilu berbagai macam masalah, memang masalah itupun ada penyebabnya, seperti: pertama, keanggotaan HMI, baik ditinjau dari tingkat pemikiran, pemahaman keagamaan, politik, ekonomi, social, budaya, persepsi  kenegaraan,  kemasyarakatan. Kedua, HMI sebagai alat belum mampu sebagai wadah managerial untuk mengantispasi semua permasalahan. Hal ini disebabkan terbatasnya masa jabatan pengurus, sarana dan prasarana belum memadai, anggota HMI masih dituntut menyelesaikan tugas pokoknya yaitu kuliah. Ketiga, pola pikir yang belum mendapatkan persamaan. Keempat, faktor-faktor lain yang sangat komplek. [23]
Permalasahan yang sangat kongkrit saat ini, sekian banyak kader HMI tetapi sungguh sedikit yang berperan untuk mewujudkan cita-cita organisasi dan tentunya cita-cita bangsa ini. Secara sederhana menurut anilisis penulis kenapa HMI hari ini kurang diminati mahasiswa, dan public juga kurang percaya kepada HMI desebabkan, kebanyakan kader HMI tidak lagi memmang teguh amanah konstitusi pasal 6 yaitu “ HMI bersifat indefenden”. Perilaku kader HMI sekarang sudah banyak yang pragmatis, hanya memikirkan keuntungan ketika ia berbuat. Bahkan hari ini pimpinan HMI hanya segelintir orang yang tetap memegang teguh sifat indefendennya, banyaknya kader HMI yang salah dalam menafsirkan kalimat indefenden itu sendiri. Mereka berpikir karena indefenden artinya bebas atau tidak terikat makanya sesuka hati mereka berbuat. Padahal dalam penjelasan tafsir indefenden itu sudah jelas yaitu tidak terikat artinya sesuai dengan hati nurani, dan cendrung kepada sifat hanif (kebenaran).
Pada intinya hari ini banyak permasalahan yang sangat komplit di tubuh HMI sendiri, disebabkan tidak indefenden para pengurus HMI, dan juga anggota HMI, bahkan alumni HMI itu sendiripun tidak berhak menginterpensi anggota HMI, karena hubungan HMI dengan alumni HMI hanya sebatas historis saja. Tetapi hari ini menurut hemat penulis, sudah banyak interpensi alumni HMI terhadap anggota HMI sendiri. Sebagian penyebabnya karena kebanyakan anggota HMI punya ekonomi rendah, sehingga anggota HMI banyak yang termakan budi kepada alumninya, sehingga sering kita lihat jika alumni HMI mengintruksikan sesuatu jarang sekali kader HMI menolaknya, sekalipun itu terkadang melanggar indefendensi HMI.
Kepemimpinan dalam diri kader HMI sangat berpengaruh terhadap keadaan bangsa Indonesia saat ini, jika hari ini kita lihat HMI sendiri terjadi perpecahan baik secara struktural ditingkat Pengurus Besar tanpa kita sadari itu juga merambas ke tingkat Cabang. Dan itu sangat berdampak terhadap kondisi Indonesia. Maka hari ini HMI harus mengembalikan khittoh perjuangan HMI itu, yaitu kembali memperjuangkan NKRI dan juga mengamalkan syariat Islam, sehingga perilaku dan sikap kader HMI dalam kehidupan dinaungi atas ridho Allah SWT.
Kondisi HMI hari ini, sangat berdampak terhadap keadaan HMI masa akan datang, jika hari ini kita masih tetap mengutamakan perdebatan, tanpa memberikan solusi cerdas, maka berarti tidak salah jika masa akan datang keadaan HMI lebih terpuruk dari saat ini. Latar belakang Alm. Lafran Pane mendirikan HMI dan menamakannya dengan himpunan, bukan ikatan, pergerakan, kelompok, kesatuan, tidak lain hanya untuk menghimpun seluruh mahasiswa Islam tanpa memandang suku, dan ras. Jika dihubungkan kondisi Madinah ketika Rasulullah SAW berdakwah, masyarakat setempat bisa menerima ajaran dan syariat Islam dengan baik, karena kondisi masyarakat setempat adalah heterogen. Sehingga Rasulullah SAW lebih mudah menjelaskan ajaran Islam ketimbang di Mekkah yang masyarakatnya homogen. Perbedaan yang kita miliki jika kita buat menjadi sebuah kesatuan itu lebih indah daripada kita perdebatkan. Tidak ada alasan bagi kader HMI hari ini untuk berpartispasi untuk mencapai tujuan organisasi HMI.
HMI sebagai organisasi perjuangan seogianya harus lebih banyak membuat program kerja yang menyentuh masyarakat dan mahasiswa. Karena elemen ini adalah basis pergerakan HMI untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang kita cintai ini. Maka kondisi HMI sekarang adalah gambaran umum HMI akan datang dan tanpa kita sadari itu juga berpengaruh terhadap kondisi Negara ini, sebab disetiap sisi mulai dari, pegawai, pengusaha, dan para pemimpin-pemimpin Negara ini sudah banyak alumni HMI.
E.     Masyarakat Madani
Istilah masyarakat madani sebanarnya sudah lama dilontarkan para pakar, di barat diistilahkan dengan “civil society”, kalau al-Farabi menyebutkan “As-Siyasah al-Madaniyah” dan di arab lebih dikenal dengan sebutan “al-mujtama al-madani” kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “masyarakat madani”.[24] Masyarakat madani adalah kemandirian aktivitas warga masyarakat berhadapan dengan Negara. Masyarakat memiliki hak terhadap penguasa, serta memiliki hak untuk mengekpresikan pendapatnya dan melakukan aktivitasnya dalam kehidupan masyarakat dan Negara.
Menurut Dawam Rawarjo mengemukakan bahwa masyarakat madani adalah sebagai proses penciptaan peradaban yang mengacu kepada nilai-nilai kebijakan bersama. Menurutnya juga masyarakat madani warga Negara bekerja sama membangun ikatan social, jaringan produktif dan solidaritas kemanusiaan, yang intinya bahwa masyarakat madani adalah persatuan dan integrasi sosial yang didasarkan pada suatu pedoman hidup, menghindarkan diri dari konflik dan permusahan yang menyebabkan perpecahan dan hidup dalam suatu persaudaraan.[25]
Setidaknya ada tiga karakteristik dasar dalam masyarakat madani, yaitu:
a.       Diakuinya semangat pluralism. Artinya, pluralitas telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan sehingga mau tidak mau, pluralitas telah menjadi suatu kaidah yang abadi dalam pandangan al-Qur’an
b.      Tingginya sikap toelransi. Baik terhadap sesame muslim maupun sesame non-muslim. Secara sederhana toleransi dapat diartikan sebagai sikap suka mendengar dan menghargai pendapat dan pendirian orang lain.
c.       Tegaknya prinsip demokrasi atau dalam dunia Islam lebih dikenal dengan istilah musyawarah.[26]
1.      Keadilan Sosial
Kata adil selalu dihadapkan dengan kata zulm, ketika Allah SWT memerintahkan manusia agar berbuat adil pada saat yang sama Allah melarang manusia berbuat zalim. Kata al-zulm berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempat yang semestinya, baik dengan cara melebihkan atau mengurangi maupun menyimpang dari waktu dan tempatnya.[27]
Mengakkan keadilan perlu ada kelompok orang-orang yang siap memimpin masyarakat, memimpin adalah menegakkan keadilan, menjaga agar setiap orang memperoleh hak asasinya, dan dalam jangka waktu yang sama menghormati kemerdekaan orang lain dan martabat kemanusiaannya sebagai manifestasi kesadarannya akan tanggung jawab.
Sebagai orang-orang yang dilatih untuk  jadi pemimpin sudah seharusnya bisa menjadi garda terdepan untuk mengakkan keadilan bagi setiap kader HMI, sebab banyak sekali yang dirasakan masyarakat hal-hal yang tidak sesuai dengan hati nurani mereka, sehingga sering terjadi hak mereka diinjak-injak, sebagai kader ummat dan kader bangsa sudah seharusnya menjadi pengontrol bagi masyarakat Indonesia.
2.      Keadilan Ekonomi
Mac Pherson dalam bukunya The Rise and Fall of Economic Justice,sebagai mana yang dikutip Mubiyarto, menjelaskan bahwa keadilan ekonomi adalah “aturan main tentang hubungan ekonomi yang didasarkan pada prinsip-prinsip etika, prinsip-prinsip mana pada gilirannya bersumber pada hokum-hukum alam, hokum Tuhan atau pada sifat-sifat social manusia.[28]
Penjelasan tersebut, terlihat keadilan ekonomi sangat erat sekali hubungannya dengan penegakan etika yang bersumber pada hokum alam atau hokum Tuhan. Paling tidak keadilan ekonomi mengacu kepada dua bentuk. Pertama, keadilan dalam distribusi pendapatan. Kedua, persamaan menghendaki setiap inidvidu harus memiliki kesempatan yang sama terhadap akses-akses ekonomi.
Berkaitan dengan keadilan ekonomi, Syed Nawab Haidar Naqwi merincikan empat poin penting. Pertama, pandangan Islam terhadap keadilan social ekonomi dilandaskan pada prinsip bahwa semua yang ada di alam semesta ini milik Allah. Sebagai khalifah, Allah member wewenang untuk mengelola dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan seluruh makhluk. Kedua, sementara tidak henti-hentinya menggalakkan mekanisme pendistribusian kembali pendapatan. Ketiga, keadilan social dalam Islam berakar pada keimanan manusia. Sungguh, keimanan manusia kepada Tuhan menimbulkan adanya suatu kewajiban otomatis untuk berbuat adil. Keempat, secara filosofis, konsep keadilan social berlandaskan atas pandangannya mengenai sesuatu yang memaksimumkan kebahagian manusia.[29]
Implikasi dari semua konsep yang ada harusnya ada orang-orang yang siap mengemban amanah itu, dan mampu merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga bukan sekedar konsep, selain pemerintah tentunya, kader HMI pun punya peranan penting untuk melaksanakan ini, sebab sebagai mahasiswa punya fungsi sebagai agen of change dan social control.
3.      Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah alat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya, sekalipun relatif namun kebenaran-kebenaran merupakan tonggak sejarah yang mesti dilalui dalam perjalanan sejarah menuju kebenaran mutlak. Jadi ilmu pengetahuan adalah persyaratan dari amal soleh. Hanya mereka yang dibimbing oleh ilmu pengetahuan dapat berjalan diatas kebenaran-kebenaran, yang menyampaikan kepada kepatuhan tanpa reserve kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan ilmu pengetahuan dan iman yang dimiliki manusia bisa mencapai puncak kemanusia yang tetinggi. Sejalan dengan itu Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya: ”Siapa yang bermaksud untuk mendapatkan kebahagaian di dunia mestilah dengan ilmu, siapa yang bermaksud mendapat kebahagian akhirat mestilah dengan ilmu, dan siapa yang ingin mendapatkan kedua-duanya maka gapailah dengan ilmu
Pentingnya ilmu pengetahuan bagi setiap manusia, dan ini disebut dengan aspek aksiologis (nilai guna). Adapun guna ilmu pengetahuan paling tidak ada dua yaitu:
a.       Ilmu pengetahuan untuk ilmu pengetahuan. Dengan ungkapan ini mereka ingin menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan tujuan pokok dari orang yang menemukannya sebagaima paralel dengan ungkapan ”seni untuk seni, sastra untuk sastra. Bagi golongan ini sebenarnya sangat netral dan bebas nilai. Jika ilmu itu menimbulkan dampak yang tidak baik sesungguhnya bukan ilmu yang salah tetapi pengguna ilmu yang tidak mempehatikan nilai-nilai etika kemanusiaan.[30]
b.      Ilmu pengetahuan merupakan alat untuk menambah kesenangan manusia dalam hidupnya sendiri dan merupakan alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan peradaban manusia secara keseluruhan.[31]
Jika kembali kepada misi HMI pada poin pertama pun yang harus dicapai untuk menaji insan cita, harus bisa menjadi insan  akademis, maka jika hari ini banyak anggota HMI yang tidak bisa menyelesaikan akademisnya dengan baik berarti ia sendiri sudah merusak citra HMI itu sendiri, dengan cara menapikan tujuan yang pertama. Menjadi seorang pemimpin yang cerdas harus menguasai berbagai disiplin ilmu. Sehingga tidak dibodoh-bodohi orang. Karena pancaran ilmu pengetahuan yang miliki kader HMI mengarahkan dia untuk selalu berbuat yang terbaik untuk mencapai ridha Allah SWT.
F.      Peran Kepemimpinan Kader HMI dalam mewujudkan Masyarakat  Madani
Kepemimpinan kader HMI sangat berpengaruh pada kondisi bangsa, sebab kader-kader HMI ada disetiap penjuru khususnya di Indonesia ini. Mulai dari daerah sampai ibu kota Negara. Ilmu yang dimiliki kader HMI harus diimplikasikan dalam hidup ini, termasuk bagaimana caranya kader HMI mewujudkan masyarakat madani di Indonesia, semua hal akan bisa dicapai dengan cara kerja keras, kesabaran dan keuletan kader HMI dalam mengemban misi HMI itu sendiri. Sebab jika kita lihat tujuan HMI poin ke lima itu bertanggung jawab, dalam arti mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang di ridhoi Allah SWT.
Pemikiran HMI dan interpretasinya, pada wal berdirinya:
1.        Bidang Politik
Ajaran agama islam tidak mungkin dikembangkan dan disiarkan dengan baik dan sempurna, kalau NKRI dijajah Belanda. Oleh karena itu Proklamasi 17 Agustus 1945 harus diperhatikan, sehingga Negara, rakyat dan bangsan Indoensia bebas dari cengkraman penjejah, berdaulat penuh, dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
2.      Bidang ekonomi
Bangsa Indonesia harus dimajukan bidang material sesuai dengan hadis Nabi “Kefakiran itu mengakibatkan kekafiran” ekonominya harus dimajukan, sehingga dapat hidup secara layak dan sempurna. Kebutuhan-kebutuhan pokok, harus dapat dipenuhi dengan mudah dan baik tanpa kesulitan, sehingga dapat menopang untuk beribadah dan beramal kepada Allah SWT, dengan penuh kekhusukan.
3.      Bidang pendidikan
Perkembangan umat Islam tidak mungkin terjadi secara sempurna jika masyarakatnya bodoh. Oleh sebab itu rakyat Indonesia harus dididik supaya cerdas, dengan mendapatkan pendidikan yang merata. Terbebas dari kebodohan.
4.      Bidang agama
Lafran Pane, menginginkan agar agama Islam itu jangan hanya dimiliki mahasiswa STI saja. Tetapi harus diikuti dan dipelajari mahaisiswa di luar STI, baik di Yogyakarta bahkan diseluruh Indonesia.
5.      Bidang kebudayaan
Islam menghadapi berbagai aliran kebudayaan. Pertama aliran kebudayaan barat, diwakili Amerika, Belanda. Kedua komunisme dan sosialisme. Ketiga kebudayaan Kristen, Katolik dan Protestan. Keempat. Aliran kebudayaan kebangsaan kebatinan dan kesusilaan atau Hindu Jawa. Kalau kebudayaan Islam tidak bertanding, derajat Islam akan lebih merosot, walaupun ajaran Islam serba lengkap.[32]
Setiap kader HMI memiliki dan tangggung jawab yang sama untuk mencapai misi HMI itu sendiri, jika tidak terjalankan dengan baik, maka bukannya kader HMI sebagai orang-orang yang mewujudkan masyarakat madani, akan tetapi bisa saja sebagai penghalang terciptanya masyarakat madani. Maka setiap kader HMI harus memiliki sifat kepemimpinan yang indefenden agar tetap bisa menghadang badai yang amat besar, yang selalu ingin menghantam kader HMI sendiri.
Peranan strategis kader HMI dalam mewujudkan masyarakat madani agaknya lebih dipikirkan setiap kader, sebab HMI hanya bisa menyumbangkan kader-kader pemimpin ummat dan bangsa, kalau itu saja tidak bisa diwujudkan HMI lalu apalagi yang menjadi sumbangsih kita untuk Negara ini, sebab mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah menjadi target HMI sejak awal berdiri. Dan semua itu untuk mencapai masyarakat madani yang diimpikan rakyat Indonesia.
G.    Kesimpulan
Kepemimpinan adalah seni mempengaruhi orang lain untuk mengarahkan kemauan mereka, kemampuan dan usaha, untuk mencapai tujuan pimpinan. Sedangkan kader adalah "sekelompok orang yang terorganisasir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar".  Secara sederhana Kader HMI adalah anggota HMI yang telah melalui proses perkaderan, memiliki integritas yang utuh: beriman, berilmu, dan beramal saleh sehingga siap mengemban tugas kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sebagai kader HMI yang selalu berhadapan dengan ummat mempunya tugas yang tertuang dalam pasal 4 yaitu: 1. Insan akademis 2. Insan pencipta 3. Insan pengabdi 4. Insan yang bernafaskan Islam 5. Insan yang bertanggung jawab. Kondisi HMI sekarang adalah gambaran HMI akan datang, maka kita harus mengembalikan khittoh perjuangan HMI untuk mencapai misi HMI itu sendiri, sehingga HMI akan datang lebih makmur dan lebih dipercaya masyarakat sebagai perpanjangan tangan untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.
Setiap kader HMI memiliki dan tangggung jawab yang sama untuk mencapai misi HMI itu sendiri, jika tidak terjalankan tugas itu dengan baik, maka bukannya kader HMI sebagai orang-orang yang mewujudkan masyarakat madani, akan tetapi bisa saja sebagai penghalang terciptanya masyarakat madani. Maka setiap kader HMI harus memiliki sifat kepemimpinan yang indefenden agar tetap bisa menghadang badai yang amat besar, yang selalu ingin menghantam kader HMI sendiri. Adapun pemikiran HMI dalam mempertahankan NKRI untuk mencapai masyarakat madani ada beberapa bidang yaitu: Bidang politik, Bidang ekonomi, Bidang pendidikan, Bidang agama, Bidang kebudayaan.
DAFTAR PUSTAKA
­­Agustian. Ary Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual, Jakarta: PT Arga, 2005
Al-Qur’an dan Terjemahannya. Depag, 2008. 
Anoraga, Pandji dan Sri Suyati. Perilaku Keorganisasisan, Jakarta: Pustaka Jaya, 1995
Bagir, Haidar. Sains Islam: Suatu Alternatif? Jakarta: LSAF, 2000
Budiman. Nasir. Kepemimpinan Dalam islam, Medan: Nadia Pondation, 2003
Hasil-hasl kongres XVII, Himpunan Mahasiswa Islam, Depok, tanggal 05-10
Mafa, Mujaddidul Islam. Man Anaa ? (Siapa Saya) ; Mengenal Jati Diri Untuk Menjadi Insan Kamil, Lumbung Insani : 2010
Mubiyarto. Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1990
Napospos, Bonar Tigor, dkk. Mahasiswa Menggugat: Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia, 1998, Bandung: Pustaka Hidayah, 1999
Naqvi, Syed Nawab Haider. Etika dan Ilmu Ekonomi; Suatu Sintesis Islami, Bandung: Mizan, 1985
Nashif, Syekh Mansur Ali. At-Taju al-Jami’ li U¡­ul fi A¥ad³£ ar-Ras­ul, (penerjemah) Bahrun Abu Bakar, Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rasulullah Saw, Bandung : Sinar Baru. 1993
Nawawi, Hadari. Kepemimpinan Menurut Islam, Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 2001
Rahmat, Jalaluddin. Epistemologi dan Aksiologi Ilmu: Perspektif Al-Qur’an, Bandung: Rosada, 1989
Ridwan, M. Deden dan Asep Gunawan. Demokratisasi Kekuasaan, Bandung: LSAF, 1999
Rue, George R. Terry Leslie W. Dasar-dasar Manajemen, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005
Saidi, Ridwan. Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa 1925-1984, Jakarta: Rajawali, 1984
Satria, Hariqo Wibawa. Lafran Pane: Jejak dan Pemikirannya, Jakarta: Lingkar, 2010
Sitompul, Agussalim. 44 Indikator Kemunduran HMI, Jakarta: Misaka Galiza, 2008
_________________. Menyatu dengan Umat dan Menyatu dengan Bangsa, Jakarta: Misaka Gazila, 2008
_________________. Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan Sejarah Perjuangan Bangsa Indoensia, Jakarta: Misaka Galiza, 2008
Sutianto. Anen. Reaktualisasi Masyarakat Madani dalam Kehidupan, Bandung: Pikiran Rakyat, 2004
Sutianto. Anen. Reaktualisasi Masyarakat Madani dalam Kehidupan, Bandung: Pikiran Rakyat, 2004
Tarigan, Azhari Akmal. Islam Bermazhab HMI, Jakarta: Kaltura, 2007
Tim Icce UIN Jakarta. Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani, Jakarta: Prenada Media, 2000
http://bangpasya.blogspot.com/2012/07/kepemimpinan-hmi-sekarang-dan-akan.html