KEPEMIMPI
NAN HMI SEKARANG DAN AKAN DATANG SEBAGAI
TAFSIR FUTURISTIK PERWUJUDAN MASYARAKAT MADANI
A.
Pendahuluan
Perjalanan organisasi
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah mencapai usia 67 tahun, tentunya sudah
banyak merambas kader-kadernya baik di kota,
pedesaaan bahkan di luar negeri. Sehingga tidak bisa kita pungkiri sudah banyak
peran kader HMI dalam perkembangan bangsa atau tanah air yang kita cintai ini.
Jika kita lihat latar
belakang mulanya berdiri organisasi mahasiswa ini, tidak lain untuk mempertahankan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mempertinggi derajat ummat Islam.
Tujuan dasar inilah yang selalu membuat kader HMI merasa bertanggung jawab
untuk mengemban missi itu, secara sederhana jika kita lihat para kader HMI
sudah berada di segala sisi, mulai dari, Pegawai, Pengusaha, Dosen, dan lain
sebagainya. Semua itu diharapkan untuk bisa mencapai missi HMI sendiri.[1]
Dalam catatan sejarah
seorang Jenderal Soedirman yang berpidato pada upacara Dies Natalis HMI ke-1
tahun 1948 di Yogyakarta beliau berkata: “HMI bukan saja merupakan Harapan Masyarakat Islam tetapi juga Masyarakat Indonesia”. Agakanya harapan
masyarakat itu tak akan sia-sia, oleh karena kesadaran sejarah cukup arif
dihayati oleh kalangan HMI. Mereka menginsyafi betapa HMI telah berperan sejak
dilahirkan.[2]
Tanggungjawab kader HMI
untuk menjaga nama baik negara ini sangat besar, sehingga tidak ada kata tidak
bagi kader HMI lari dari tanggungjawab itu, sebab ketika seorang mahasiswa
sajapun yang baru selesai mengikuti training formal pertama atau Latihan Kader
I, selalu diingatkan bahwa ia mempunyai tanggung jawab yang berat yaitu sebagai
kader ummat dan kader bangsa.
Sifat independen HMI
yang menjadi sejata pamungkas, tentunya membuat HMI tampil beda dengan
organisasi-organisasi lain, dimana HMI bersifat bebas baik berbuat, dalam
seluruh aspek kehidupan, bebas bukan berarti semena-mena tetapi ada aturan yang
harus dipatuhi kader HMI sehingga ia cendrung kepada hanif (kebenaran).
Hari ini masalah
independensi kader HMI menjadi perbincangan yang tidak habis-habis dalam
internal HMI sendiri. Sering sekali kader HMI hilang sifat independennya ketika
ia dihadapkan dengan dunia lapangan, maka timbul pertanyaan dalam benak penulis
apakah penyebab terjadinya kasus-kasus seperti di atas. Perlu dipikirkan, pada
hakikatnya pernan Kepemimpinan sangat urgen dalam mengontrol prilaku kader HMI,
sehingga ia bisa mengontrol hawa nafsunya dan bukan dikontrol hawa nafsu itu
sendiri. Umur HMI yang semakin tua punya peranan penting untuk mewujudkan
masyarakat nadani, tapi apakah kader HMI saat ini bisa mewujudkan masyarakat
Madani? Saya pikir pertanyaan yang sederhana itulah yang membuat penulis
tertarik untuk menulis makalah ini.
B.
Kepemimpinan
- Pengertian
Para
ilmuan yang menekuni masalah-masalah kepemimpinan telah melakukan banyak
penelitian tentang berbagai segi kepemimpinan. Berbagai hasil penelitian
tersebut telah memungkinkan masyarakat modern memiliki berbagai acuan ilmiah
yang secara teoritikal memberikan gambaran tentang betapa pentingnya
kepemimpinan yang efektif dalam kehidupan organisasional, baik dibidang
keniagaan, dibidang politik, bahkan juga bidang keagamaan dan bidang
organisasi-organisasi social yang sifatnya nirlaba. Pendeknya gambaran yang
semakin jelas tentang esensilia kepemimpinan untuk semua jenis organisasi
terlepas dari tujuannya, sifatnya, dan besar kecilnya.
Kekuasaan
adalah tema sentral politik, tak ada perdebatan yang lebih penting dalam ilmu
politik selain menguasai kekuasaan. Kekuasaan dengan berbagai demensinya,
selalu menjadi acuan seorang pemimpin dalam setiap geraknya. Ada yang melihat kekuasaan sebagai sekedar
cara mencapai tujuan, namun lebih banyak yang melihat kekuasaan sebagai tujuan.[3]
Dalam
kepemimpinan ini terdapat hubungan antar manusia, yiatu hubungan saling
mempengaruhi (dari pemimpin) dan hubungan kepatuhan-ketaatan para pengikut para
pengikut/bawahan karena dipengaruhi oleh kewibawaan pemimpin. Para
pengikut terkena pengaruh kekuatan dari pemimpinnya, dan bangkitlah secara
spontan rasa ketaatan pada pemimpin.
Pada
dasarnya kepemimpinan dalam diri seseorang sangat urgen, sebab kepemimpinan
modal dasar untuk menjalani hidup lebih baik dan terarah. Sifat ini seogianya
dimiliki para kader Insan Cita, agar bisa merangkul dan memberdayakan orang
lain, untuk mencapai tujuan tertentu. Defenisi tentang kepemimpinan sudah
banyak pakar yang mendefenisikan hal tersebut yaitu:
1. R.D
Agrawal mendefenisikan kepemimpinan adalah seni mempengaruhi orang lain untuk
mengarahkan kemauan mereka, kemampuan dan usaha, untuk mencapai tujuan pimpinan.
Hubungannya dalam organisasi, kepemimpinan terletak pada usaha mempengaruhi
individu, dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasi secara optimal.
2. Plunkett
dan Attner mengemukakan : “Process of
influencing group or individual to set goal or achieve a goal”. Proses mempengaruhi kelompok
atau individu untuk menetapkan tujuan atau
mencapai
tujuan.
3. Irancevich
dan kawan-kawan, mendefenisikan kepemimpinan sebagai kemampuan mempengaruhi
aktivitas orang lain melalui komunikasi, baik individual maupun kelompok kearah
pencapaian tujuan.[4]
4. Kepemimpinan
adalah suatu pertumbuhan alami dari orang-orang yang berserikat untuk suatu
tujuan dalam suatu kelompok.[5]
5. Dalam
bukunya Nasir Budiman yang berjudul “Kepemimpinan Dalam Islam” bahwa
Kepemimpinan berasal dari kata “Pemimpin” yang mendapat imbuhan “Ke” dan “an”
yang mengandung pengetian, yaitu orang yang menjalankan suatu aktivitas atau
mengarahakan orang lain dalam berbagai kegiatan dan organisasi, baik formal
maupun non-formal, komersial ataupun sosial
untuk memenuhi cita-cita dan tujuan sebagaiimana diharapkan.[6]
Beberapa
defenisi kepemimpinan di atas, dapat dipahami bahwa kepemimpinan usaha
mempengaruhi orang lain, untuk mencapai misi organisasi itu sendiri,
kepemimpinan selalu melibatkan orang lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan
bahwa dimana ada pemimpin maka disana ada pengikut. Maka kemampuan mempengaruhi
orang lain merupakan inti dari kepemimpinan.
Untuk
dapat mempengaruhi orang lain, pemimpin perlu mengetahui beberapa strategi
antara lain:
a. Menggunakan
fakta dan data untuk mengemukakan argument dan alasan yang logis.
b. Bersikap
bersahabat dan mendukung upaya yang baik dalam organisasi
c. Memobilisasi
atau mengaktifkan orang lain untuk melaksanakan pekerjaan.
d. Melakukan
negoisasi
e. Menggunakan
pendekatan langsung dan kalau terpaksa menggunakan paksaan
f.
Memperoleh dukungan dari atasan atau
orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dalam organisasi
g. Memberikan
sanksi dan hukuman terhadap perilaku yang menyimpang.[7]
Kepemimpinan
mengharuskan seorang pemimpin mempengaruhi dua perhatian secara simultan yaitu:
Tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok dan individu, kebutuhan dan
harapan dari kelompok dan individu.
b.
Fungsi
Kepemimpinan
Seorang
pemimpin harusnya memahami apa sebenarnya fungsi kepemimpinan itu sendiri sehingga
ia tidak berbuat sesuka hatinya melainkan sesuai dengan fungsi kepemimpinan itu
sendiri, adapun fungsi kepemimpinan itu ialah sebagai berikut:
1) Fungsi
Instruktif
Setiap pemimpin perlu
memiliki kemampuan dalam memberikan perintah yang bersifat komunikatif, agar
dilaksanakan menjadi kegiatan oleh orang yang menerima perintahnya. Fungsi ini
bersifat satu arah, namun harus komunikatif karena sekurang-kurangnya harus
dimengerti oleh anggota organisasi yang menerima perintah. Sejalan dengan itu
Allah SWT berfirman dalam surah an-Naml ayat 32-33 yaitu:
ôMs9$s% $pkš‰r'¯»tƒ (#àsn=yJø9$# ’ÎTqçGøùr& þ’Îû “ÌøBr& $tB àMZà2 ºpyèÏÛ$s% #¶öDr& 4Ó®Lym Èbr߉uhô±n@ ÇÌËÈ (#qä9$s% ß`øtwU (#qä9'ré& ;o§qè% (#qä9'ré&ur <¨ù't/ 7‰ƒÏ‰x© ãøBF{$#ur Å7ø‹s9Î) “ÌÝàR$$sù #sŒ$tB tûïÌãBù's? ÇÌÌÈ
Artinya: “Berkata
Dia (Balqis): "Hai Para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku
(ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam
majelis(ku)".
Mereka menjawab: "Kita
adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang
sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: Maka
pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan".[8]
Firman tersebut
menggambarkan kepada kita bahwa Ratu Balqis sebagai pemimpin sedang melaksnakan
fungsi kepemimpinan instruktifnya.
2) Fungsi
konsultatif
Fungsi ini bersifat dua
arah, sebab berlangsung interaksi antara pemimpin dan anggota organisasinya.
Fungsi konsultatif dapat diwujudkan pemimpin dalam menghimpun bahan sebagai
masukan apabila akan menetapkan berbagai keputusan penting dan bersifat
strategis. Untuk itu pemimpin perlu mengadakan konsultasi dengan anggota
organisasinya, baik secara terbatas maupun secara meluas sebelum keputusan
ditetapkan.
Fungsi ini harus
dilakukan secara teratur dan hasilnya akan dimanfaatkan, bukan saja akan
menghasilkan keputusan yang tepat tetapi juga akan mendapat dukungan dari
anggota organisasi dalam pelaksanaannya. Sehingga dampaknya ini pun sangat
bersinergi untuk memudahkan dalam melaksanakan fungsi instruktif, sebab semua
anggota akan merasa bertanggung jawab dalam mensukseskan pelaksanaan keputusan
yang telah ditetapkan.
3) Fungsi
partisipasi
Fungsi ini bukan
sebatas komunikasi dua arah, tetapi juga merupakan perwujudan hubungan
manusiawi. Pemimpin dalam menjalankan tugas harus berusaha mengaktifkan suluruh
anggota organisasinya, sehingga selalu terdorong untuk berkomunikasi, baik
secara horizontal maupun vertical. Anggota didorong terus agar aktif
melaksanakan tugas pokokna sesuai dengan posisi dan wewenang masing-masing.
4) Fungsi
delegasi
Setiap pemimpin
tentunya tidak melaksanakan tugas organisasi sendiri, melainkan ada anggota,
atau pengurus yang siap untuk membantu pimpinan, maka seogianya pemimpin harus
memberikan izin pada anggota organisasi dalam posisi tertentu untuk menetapkan
keputusan, selain itu juga fungsi delegasi ini bisa diberikan pemimpin kepada
anggota saat ada kegiatan yang harus diikuti.
5) Fungsi
pengendalian
yang bersifat pengendalian dilakukan pada saat
kegiatan berlagsung, dengan maksud preventif yakni mencegah terjadinya
penyimpangan atau kekeliruan dalam melaksanakan keputusan atau perintah
pimpinan. Pengawasan pun harus dilakukan juga pada kegiatan organisasi yang
bersifat rutin, bahkan juga terhadap pelaksanaan etika organisasi.
6) Fungsi
keteladanan
Pemimpin dituntut
selalu menampilkan sikap dan perilaku terbaik, sesuai dengan norma-norma yang
berlaku di lingkungan organisasinya (termasuk kode etik kalau ada). [9] Disamping
itu harus pula dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakat atau di lingkungan
bangsanya. Secara khusus karena HMI adalah organisasi mahasiswa yang berbasis
Islam, sudah sewajarnya seorang pemimpin di HMI harus selalu mematuhi
aturan-aturan yang diperintahkan dan meninggalkan larangan Allah SWT.
Jika kita pahami secara
komprehensif dari berbagai fungsi kepemimpin dalam hidup ini jelas, untuk
mengarahkan kita kepada kebijakan, dimana kebijakan cendrung kepada kebenaran.
Sehingga kebenaran yang dimiliki setiap kader sang Hijau Hitam selalu terpatrah
kepada kebenaran yang diimpikan masyarakat, khususnya di Indonesia ini.
c.
Tugas
Pemimpin
Hamzah
Ya’cub sebagaimana dikutip oleh M. Amin, menjelaskan tugas-tugas seorang
pemimpin sebagai berikut :[10]
1. Memelihara
amanah
Amanah
yang dimaksud di atas adalah Amanah Allah dan rasul-Nya sebagaimana Hadis Nabi
;
وانها
امانة وانها يوم القيامة خزي وندامة الا من اخذها
بحقها وادى الذى فيها.[11]
Artinya :
”Sesungguhnyau (kepengurusan) itu adalah amanah, dan sesungguhnya hari
kiamat merupakan malu dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan
baik dan melaksanakan tugas kewajibannya dengan baik”.
Amanah
yang telah diberikan pada pemimpin supaya dilaksanakan dan jangan ditinggalkan
sebagaimana dijelaskan dalam surat
Al-Anfal ayat 27 :
$pkš‰r'¯»tƒ z`ƒÏ©$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qçRqèƒrB ©!$# tAqß™§9$#ur (#þqçRqèƒrBur öNä3ÏG»oY»tBr& öNçFRr&ur tbqßJn=÷ès? ÇËÐÈ
Artinya : “27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu
mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
Amanah
menjadi pemimpin di organisasi, baik dalam skala kecil maupun besar adalah
merupakan sebuah pemberian dan karunia dari Allah SWT. Pada dasarnya Allah-lah
yang memberikan jabatan, kedudukan dan derajat yang tinggi. Apabila kedudukan
kita sedsang berada di atas, maka gunakanlah kesempatan kepemimpinan itu untuk
melayani rakyat, melayani anggota dan bawahan dengan baik dan sesempurna
mungkin. Tunaikanlah hak dan kewajiban mereka, karena yang demikian merupakan
perintah dari sang Khaliq.
Terdapat
riwayat yang bersumber dari Mu’qil bin Yasar, ia berkata aku mendengar
Rasulullah SAW bersabda :
Yang Artinya : “Tidak seorang pemimpin pun yang diberikan
Allah amanah untuk menjadi pemimpin yang mengurusi kaum muslimin, lalu ia
meninggal dunia sedang ia curang kepada mereka (tidak adil/korupsi) kecuali
Allah akan mengharamkan pemimpin itu masuk sorga.” (HR. Bukhari dan Muslim)[12]
Dari
hadits tersebut diatas, dapat dipahami bahwa ada semacam penekanan pada
pemimpin untuk senantiasa menjalankan amanah kepemimpinan dan tidak curang atau
menyelewengkan amanah tersebut, karena konsekwensinya adalah Allah akan
mengharamkannya masuk ke sorga.
2. Memberi
Petunjuk
Memberi
petunjuk atau perintah pada orang lain merupakan suatu keharusan bagi tugas seorang
pemimpin. Dalam menyampaikan perintah ini seorang pemimpin harus mempunyai
keberanian dan juga harus lebih tahu dari yang diperintah. Firman Allah dalam surat al-Anbiya ayat 73 ;
öNßg»uZù=yèy_ur Zp£Jͬr& šcr߉öku‰ $tRÌøBr'Î/ !$uZøŠym÷rr&ur öNÎgø‹s9Î) Ÿ@÷èÏù ÏNºuŽöy‚ø9$# uQ$s%Î)ur Ío4qn=¢Á9$# uä!$tFƒÎ)ur Ío4qŸ2¨“9$# ( (#qçR%x.ur $oYs9 tûïωÎ7»tã ÇÐÌÈ
Artinya : “73. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami
wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah,”
3. Menegakkan
Hukum
Dalam
masyarakat harus ada hukum supaya kehidupan social kemasyarakatan diatur
menjadi damai dan tentram, hukum ini harus ditegakkan, khususnya bagi seorang
pemimpin, baik itu bersumber dari Alquran maupun hukum-hukum adat yang
disepakati masyarakat.
Ancaman
bagi penegak hukum yang tidak menegakkan hukum tersebut, dijelaskan Al-quran
dalam surat
al-Maidah ayat 44 sebagai berikut :
... `tBur óO©9 Oä3øts† !$yJÎ/ tAt“Rr& ª!$# y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbrãÏÿ»s3ø9$# ÇÍÍÈ
Artinya “ 44. …Barangsiapa yang tidak memutuskan
menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang
kafir.”
Sebaliknya
pemimpin yang lurus dan adil di dalam menjalankan hukum, akan mendapat
kehormatan sebagaimana dinyatakan Rasul :
ان المقسطين عند الله
على منابر من نور الذين يعدلون في حكمهم فى اهلهم وماولوا.[13]
Artinya :
”Sesungguhnya orang-orang yang lurus di sisi Allah di atas mimbar-mimbar
cahaya, yakni mereka belaku adil dalam menjalankan hukum pada keluarga mereka
dan kepada orang-orang mereka pimpin”.
4. Amar
Ma’ruf Nahi Mungkar
Tugas
pemimpin yang lain melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, yang ma’ruf mendapat kebaikan yang mungkar
mendapat keburukan. Oleh karena itu kedua hal ini harus dilaksanakan pemimpin,
supaya masyarakat selalu dalam keadaan baik, aman dan tentram menuju
kebahagiaan dan menghindarkan malapetaka. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 110 :
öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_Ì÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã Ìx6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ
Artinya : “110. kamu adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang
munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik.”
5. Mendidik
Seorang
pemimpin harus dapat mendidik dalam masyarakat. Menjadikan dirinya sebagai
contoh di tengah-tengah masyarakat, karena masyarakat memerlukan pedoman yang
harus diikuti dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Nabi
bersabda :
انما انا لكم مثل الوالد لولده علمكم
Artinya
: “Hubunganku dengan engkau adalah
seperti orang tua dengan anaknya, dimana aku mengajarimu”.
6. Memelihara
dan melindungi
Pemimpin
harus memberi dan melindungi masyarakat dari ancaman-ancaman dan serangan-serangan
yang datang dari musuh-musuh rakyat, baik yang datang dari dalam maupun dari
luar. Hadis Nabi mengatakan :
انكم ستخرصون على الا مارة و ستكون ندامة يوم
القيامة فنعم المر ضعة وبئست الفاطمة[14]
Artinya
: ”Sesungguhnya kalian sangat
ingin pada kekuasaan, padahal ia suatu penyesalan di hari qiyamat. Alangkah
baiknya penyusu dan alangkah jahatnya pemutus”.
Kekuasaan
itu oleh rasulullah disamakan dengan penyusu terus memberi susu yang hasil, dan
kematian oleh rasulullah disamakan dengan pemutus susu. Jadi alangkah baiknya
hasil kekuasaan itu dan alangkah jeleknya kematian yang memutuskan hasil itu
dan mewajibkan memberi perhitungan.
Oleh
karena itulah pemimpin yang tidak memelihara dan tidak melindungi umat, dia
tidak termasak pemimpin yang sejati, bahkan pemimpin yang demikian mendapat
ancaman dari Allah sebagaimana Hadis Nabi ;
اللهم
من ولي من امر امتي شيئا فشق عليهم
فاشقق عليه[15]
Artinya
;”Ya Allah, barangsiapa memegang
sesuatu dari antara urusan ummatku, lalu ia susahkan mereka, maka susahkanlah
dia”.
7. Bertanggung
Jawab
Pemimpin harus bertanggung jawab
terhadap segala yang telah dilaksanakannya di tengah masyarakat. Pertanggung
jawaban itu bukan hanya kepada rakyat yang dipimpin tetapi juga kepada Allah
swt nantinya di akhirat. Melalaikan tanggung jawabnya adalah berarti menyalahi
garis kepemimpinan yang di amanahkan kepadanya. Hadis Nabi mengatakan :
من ولاه
شيئا من امور المسلمين فاحتجب عن حاجتهم وفقيرهم احتجب الله دون حاجته.[16]
Artinya
: “Barangsiapa Allah serahkan kepadanya suatu urusan muslimin, tetapi ia tidak
perhatikan keperluan mereka dan orang-orang fakir mereka, niscaya Allah tidak
akan memperhatikan keperluannya”.
C.
Kader
HMI dan Ummat
“Cadre is a small
group of people who are specially chosen and trained for a particular purpose”
(AS Hornby). Jadi pengertian kader adalah "sekelompok orang yang
terorganisasir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi
kelompok yang lebih besar". [17]
Secara sederhana Kader HMI adalah anggota HMI yang telah melalui proses
perkaderan, memiliki integritas yang utuh: beriman, berilmu, dan beramal saleh
sehingga siap mengemban tugas kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Sebagai kader Himpunan Mahasiswa
Islam yang lebih di kenal dengan sebutan HMI, mempunyai tanggung jawab berat
dalam hidupnya, tentunya dia punyai tugas yang sering disebut dengan Kualitas
Insan Cita, sebab missi HMI sudah termaktub dalam konstitusi HMI pasal 4 dalam
Anggaran Dasar HMI yaitu “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta,
Pengabdi Yang Bernafaskan Islam Dan Bertanggung Jawab Atas Terwujudnya
Masyarakat Adil Makmur Yang Diridhoi Allah Swt”.
Selanjutnya penjabaran tentang
misi HMI itu dijelaskan pada tafsir tujuan, sebagai berikut Kualitas
insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman
dan berilmu pengetahuan serta mampu
melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dalam pasal
tujuan (pasal 4 AD HMI) adalah sebagai berikut :
1. Kualitas Insan Akademis
a. Berpendidikan
Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
b. Memiliki
kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan.
Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran.
c. Sanggup
berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya,
baik secara teoritis maupun tekhnis dan
sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara
bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip
perkembangan.
2. Kualitas Insan Pencipta :
Insan Akademis, Pencipta
a. sanggup
melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan
bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan
bersikap dengan bertolak dari apa yang
ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan, selalu
mencari perbaikan dan pembaharuan.
b.
Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, insan
yang menyadari dengan sikap demikian potensi, kreatifnya dapat berkembang dan
menentukan bentuk yang indah-indah.
c.
Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu
melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran Islam.
3. Kualitas Insan Pengabdi :
Insan Akdemis, Pencipta, Pengabdi
a. Ikhlas
dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
b. Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukannya hanya
membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menajdi baik.
c. Insan
akdemis, pencipta dan mengabdi adalah
yang bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya
untuk kepentingan sesamanya.
4. Kualitas Insan yang bernafaskan islam : Insan Akademis, pencipta
dan pengabdi yang ber nafaskan Islam
a. Islam
yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa
memakai merk Islam. Islam akan menajdi pedoman dalam berkarya dan mencipta
sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah
menapasi dan menjiwai karyanya.
b. Ajaran
Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas Islam
telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak
pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim
insan ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya dalam pembangunan nasional
bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.
5. Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil
makmur yang diridhoi oleh Allah SWT :
a. Insan
akademis, pencipta dan pengabdi yang ber nafaskan islam dan bertanggungjawab
atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
b. Berwatak,
sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan
adanya keberanian moral.
c. Spontan
dalam menghadapi tugas, responsip dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh
dari sikap apatis.
d. Rasa
tanggungjawab, takwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran
aktif dalam suatu bidang dalam me wujudkan masyarakat adil dan makmur yang
diridhoi Allah SWT.
e. Korektif
terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang
adil dan makmur.
f.
Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukannya sebagai “khallifah fil ard” yang harus
melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.[18]
Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “man of future” insan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas
dan berpandangan jauh, bersikap terbuka,
terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan
tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara kooperatif bekerja sesuai
dengan yang dicita-citakan. Ideal tipe dari hasil perkaderan HMI adalah “man of inovator” (duta-duta pembantu).
Penyuara “idea of progress” insan
yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak
takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah SWT. Mereka itu manusia-manusia uang beriman berilmu dan
mampu beramal saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil).
Sebagai kader ummat dan
kader bangsa semua kader HMI senantiasa melaksanakan tugas-tugas itu secara
arif dan bijaksana, untuk mencapai tujuan organisasi secara optimal, maka sudah
sewajarnya setiap kader HMI mampu mengemban amanah. Kesuksesan kader HMI dalam
berproses suatu hal yang penting untuk memperbaiki kondisi Negara ini,
Kader HMI tidak bisa
terlepaskan dengan ummat sekalipun ia organisasi mahasiswa, karena tujuan awal
lahirnya HMI itu sendiri, untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) dan mensyiarkan ajaran Islam. Jadi HMI akan selalu
bergandengan dengan masyarakat atau ummat untuk mencapai tujuan organisasi itu,
salah satu faktor kemunduran HMI disebabkan kader HMI jarang membuat aktivitas
yang melibatkan masyarakat,[19]
sehingga kita tidak heran jika ada masyarakat yang tidak mengenal HMI sekalipun
HMI termasuk organisasi tertua di Negara yang kita cintai ini, yaitu Indonesia.
D.
HMI
sekarang dan Akan Datang
Perjalanan organisasi
HMI sudah mencapai 65 tahun, tentunya sudah banyak yang diasakan, mulai dari pujian,
cemoohan. Pada tahun 1950 pernah HMI mau dibububarkan disebabkan hanya beberapa
orang saja yang menjadi pengurus HMI, yaitu, Lafra Pane, A. Dahlan, dan
Ranuwiharja. Kampus belum seramai sekarang, malah ada yang terpaksa gulung
tikar. MS. Mintarej pergi ke Pasundan, M.Sanusi ke Jakarta Amad Tito Sudirjo
berpindah tugas ke bidang militer. Terpaksa Lafran Pane, sebagai perakarsa
pendiri HMI, beberapa kali mengambil alih PB HMI, bukan karena ambisi dan cari
popularitas, tetapi karena tanggung jawab semata, untuk keberlangsungan hidup
HMI yang didirikannya bersama teman-temannya.[20]
Dengan kesabaran,
ketekunan, dan keuletan yang tidak kenal lelah serta menyerah. Lafran Pane,
Dahlan menghimpun dan membangun kembali sisa-sisa kekuatan yang masih ada dan
mungkin diajak, mengkonsolidasikan kembali, sehingga HMI dapat tampil,
sebagaimana layaknya suatu organisasi. Beberapa tindakan yang dilakukan pada
saat itu, memindahkan kedudukan Pengurus Besar HMI bulan juni 1951 dari
Yogyakarta ke Jakarta.
Hal itu merupakan cara yang arif dan
bijaksana, merubah dan membawa kepada iklim baru,menuju pertumbuhan dan
perkembangan HMI untuk masa-masa mendatang. [21]
Sebagai organisasi
kader dan alat perjuangan bangsa dalam mengisi kemerdekaan, pada saat itu HMI
selama 13 tahu konsolidasi. Langkah-langkah strategis dan pasti dilaksanakan
secara tertib dan konsepsional. Pembinaan anggota, yang diarahkan menjadi
seorang sarjana muslim, yang memiliki ilmu pengetahuan dan kecakapan, untuk
menjadi kader bangsa. Pembinaan dan penghayatan ajaran agama Islam para anggota
merupakan sasaran pokok yang harus dicapai. Tugas kemasyarakatan, dimana
manusia sebagai makhluk social, merupakan tugas kemanusiaan sepanjang masa yang
merupakan bagian hidup dari setiap manusia mendapat porsi sebagaimana mestinya.
Kepentingan individu, penyaruran bakat seperti, kesenian, olahraga, rekreasi,
hiburan studi tour, semua itu disalurkan dengan cepat.[22]
Pembinaan anggota HMI
pada saat itu meliputi, keislaman, kebangsaan, dan nasionalisme, pemibinaan
intelektual, kecintaan, dan kebanggaan terhadap HMI, atau lazim disebut
ke-HMI-an, kemasyarakatan, penyaluran bakat dan keinginan, latihan dan
perkaderan yang secara terus-menerus lakukan segenap pengurus, baik dari
tingkat Komisariat, Cabang, Badko dan juga Pengurus Besar HMI.
Satu cirri khas yang
dibina HMI, adanya kebebasan berpikir dikalangan anggotanya, pada hakekatnya
timbul pembaharuan, karena adanya pemikiran yang bersifat dinamis dari
masing-masing pribadi kader HMI. Sesuai dengan perkembangan nasional bangsa Indonesia
yang meliputi bidang politik pendidikan, ekonomi, agama dan kebudayaan.
Disebabkan beberapa hal tersebut pergolakan pemikiranpun tidak bisa dibendung
bahkan merupakan suatu keharusan. Beberapa faktor yang menimbulkan pemikiran
itu, perkembangan dan kemajua tekgnologi modern, perkembangan sosial, ekonomi
dan kebudayaan, tumbuh dan berkembangnya pemikiran-pemikiran modern dalam
Islam, kemajuan ilmu pengetahuan. Sehingga beberapa masalah pun timbul
dikalangan anggota-anggota HMI diantaranya masalah keagamaan, politik,
pendidika, ekonomi, kebudayaan, kemasyarakatan, penataan dan pembinaan
organisasi, yang hingga kini masih berkelanjutan.
Saat ini HMI sedang
dirindung pilu berbagai macam masalah, memang masalah itupun ada penyebabnya,
seperti: pertama, keanggotaan HMI,
baik ditinjau dari tingkat pemikiran, pemahaman keagamaan, politik, ekonomi,
social, budaya, persepsi
kenegaraan, kemasyarakatan. Kedua, HMI sebagai alat belum mampu
sebagai wadah managerial untuk mengantispasi semua permasalahan. Hal ini disebabkan
terbatasnya masa jabatan pengurus, sarana dan prasarana belum memadai, anggota
HMI masih dituntut menyelesaikan tugas pokoknya yaitu kuliah. Ketiga, pola pikir yang belum
mendapatkan persamaan. Keempat,
faktor-faktor lain yang sangat komplek. [23]
Permalasahan yang
sangat kongkrit saat ini, sekian banyak kader HMI tetapi sungguh sedikit yang
berperan untuk mewujudkan cita-cita organisasi dan tentunya cita-cita bangsa
ini. Secara sederhana menurut anilisis penulis kenapa HMI hari ini kurang
diminati mahasiswa, dan public juga kurang percaya kepada HMI desebabkan,
kebanyakan kader HMI tidak lagi memmang teguh amanah konstitusi pasal 6 yaitu “
HMI bersifat indefenden”. Perilaku kader HMI sekarang sudah banyak yang
pragmatis, hanya memikirkan keuntungan ketika ia berbuat. Bahkan hari ini
pimpinan HMI hanya segelintir orang yang tetap memegang teguh sifat
indefendennya, banyaknya kader HMI yang salah dalam menafsirkan kalimat
indefenden itu sendiri. Mereka berpikir karena indefenden artinya bebas atau
tidak terikat makanya sesuka hati mereka berbuat. Padahal dalam penjelasan
tafsir indefenden itu sudah jelas yaitu tidak terikat artinya sesuai dengan
hati nurani, dan cendrung kepada sifat hanif (kebenaran).
Pada intinya hari ini
banyak permasalahan yang sangat komplit di tubuh HMI sendiri, disebabkan tidak
indefenden para pengurus HMI, dan juga anggota HMI, bahkan alumni HMI itu
sendiripun tidak berhak menginterpensi anggota HMI, karena hubungan HMI dengan
alumni HMI hanya sebatas historis saja. Tetapi hari ini menurut hemat penulis,
sudah banyak interpensi alumni HMI terhadap anggota HMI sendiri. Sebagian
penyebabnya karena kebanyakan anggota HMI punya ekonomi rendah, sehingga
anggota HMI banyak yang termakan budi kepada alumninya, sehingga sering kita
lihat jika alumni HMI mengintruksikan sesuatu jarang sekali kader HMI
menolaknya, sekalipun itu terkadang melanggar indefendensi HMI.
Kepemimpinan dalam diri
kader HMI sangat berpengaruh terhadap keadaan bangsa Indonesia saat ini, jika hari ini
kita lihat HMI sendiri terjadi perpecahan baik secara struktural ditingkat
Pengurus Besar tanpa kita sadari itu juga merambas ke tingkat Cabang. Dan itu
sangat berdampak terhadap kondisi Indonesia. Maka hari ini HMI harus
mengembalikan khittoh perjuangan HMI
itu, yaitu kembali memperjuangkan NKRI dan juga mengamalkan syariat Islam,
sehingga perilaku dan sikap kader HMI dalam kehidupan dinaungi atas ridho Allah
SWT.
Kondisi HMI hari ini,
sangat berdampak terhadap keadaan HMI masa akan datang, jika hari ini kita
masih tetap mengutamakan perdebatan, tanpa memberikan solusi cerdas, maka
berarti tidak salah jika masa akan datang keadaan HMI lebih terpuruk dari saat
ini. Latar belakang Alm. Lafran Pane mendirikan HMI dan menamakannya dengan
himpunan, bukan ikatan, pergerakan, kelompok, kesatuan, tidak lain hanya untuk
menghimpun seluruh mahasiswa Islam tanpa memandang suku, dan ras. Jika
dihubungkan kondisi Madinah ketika Rasulullah SAW berdakwah, masyarakat
setempat bisa menerima ajaran dan syariat Islam dengan baik, karena kondisi masyarakat
setempat adalah heterogen. Sehingga
Rasulullah SAW lebih mudah menjelaskan ajaran Islam ketimbang di Mekkah yang
masyarakatnya homogen. Perbedaan yang
kita miliki jika kita buat menjadi sebuah kesatuan itu lebih indah daripada
kita perdebatkan. Tidak ada alasan bagi kader HMI hari ini untuk berpartispasi
untuk mencapai tujuan organisasi HMI.
HMI sebagai organisasi
perjuangan seogianya harus lebih banyak membuat program kerja yang menyentuh
masyarakat dan mahasiswa. Karena elemen ini adalah basis pergerakan HMI untuk
mewujudkan cita-cita bangsa yang kita cintai ini. Maka kondisi HMI sekarang
adalah gambaran umum HMI akan datang dan tanpa kita sadari itu juga berpengaruh
terhadap kondisi Negara ini, sebab disetiap sisi mulai dari, pegawai, pengusaha,
dan para pemimpin-pemimpin Negara ini sudah banyak alumni HMI.
E.
Masyarakat
Madani
Istilah masyarakat
madani sebanarnya sudah lama dilontarkan para pakar, di barat diistilahkan
dengan “civil society”, kalau
al-Farabi menyebutkan “As-Siyasah
al-Madaniyah” dan di arab lebih dikenal dengan sebutan “al-mujtama al-madani” kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “masyarakat madani”.[24] Masyarakat
madani adalah kemandirian aktivitas warga masyarakat berhadapan dengan Negara.
Masyarakat memiliki hak terhadap penguasa, serta memiliki hak untuk
mengekpresikan pendapatnya dan melakukan aktivitasnya dalam kehidupan
masyarakat dan Negara.
Menurut Dawam Rawarjo
mengemukakan bahwa masyarakat madani adalah sebagai proses penciptaan peradaban
yang mengacu kepada nilai-nilai kebijakan bersama. Menurutnya juga masyarakat
madani warga Negara bekerja sama membangun ikatan social, jaringan produktif
dan solidaritas kemanusiaan, yang intinya bahwa masyarakat madani adalah
persatuan dan integrasi sosial yang didasarkan pada suatu pedoman hidup,
menghindarkan diri dari konflik dan permusahan yang menyebabkan perpecahan dan
hidup dalam suatu persaudaraan.[25]
Setidaknya ada tiga
karakteristik dasar dalam masyarakat madani, yaitu:
a.
Diakuinya semangat pluralism. Artinya,
pluralitas telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan sehingga
mau tidak mau, pluralitas telah menjadi suatu kaidah yang abadi dalam pandangan
al-Qur’an
b.
Tingginya sikap toelransi. Baik terhadap
sesame muslim maupun sesame non-muslim. Secara sederhana toleransi dapat
diartikan sebagai sikap suka mendengar dan menghargai pendapat dan pendirian
orang lain.
c.
Tegaknya prinsip demokrasi atau dalam
dunia Islam lebih dikenal dengan istilah musyawarah.[26]
1. Keadilan Sosial
Kata
adil selalu dihadapkan dengan kata zulm,
ketika Allah SWT memerintahkan manusia agar berbuat adil pada saat yang sama
Allah melarang manusia berbuat zalim. Kata al-zulm
berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempat yang semestinya, baik dengan cara
melebihkan atau mengurangi maupun menyimpang dari waktu dan tempatnya.[27]
Mengakkan
keadilan perlu ada kelompok orang-orang yang siap memimpin masyarakat, memimpin
adalah menegakkan
keadilan, menjaga agar setiap orang memperoleh hak asasinya, dan dalam jangka
waktu yang sama menghormati kemerdekaan orang lain dan martabat kemanusiaannya
sebagai manifestasi kesadarannya akan tanggung jawab.
Sebagai orang-orang yang
dilatih untuk jadi
pemimpin sudah seharusnya bisa menjadi garda terdepan untuk mengakkan keadilan
bagi setiap kader HMI, sebab banyak sekali yang dirasakan masyarakat hal-hal
yang tidak sesuai dengan hati nurani mereka, sehingga sering terjadi hak mereka
diinjak-injak, sebagai kader ummat dan kader bangsa sudah seharusnya menjadi
pengontrol bagi masyarakat Indonesia.
2. Keadilan Ekonomi
Mac
Pherson dalam bukunya The Rise and Fall
of Economic Justice,sebagai mana yang dikutip Mubiyarto, menjelaskan bahwa
keadilan ekonomi adalah “aturan main tentang hubungan ekonomi yang didasarkan
pada prinsip-prinsip etika, prinsip-prinsip mana pada gilirannya bersumber pada
hokum-hukum alam, hokum Tuhan atau pada sifat-sifat social manusia.[28]
Penjelasan
tersebut, terlihat keadilan ekonomi sangat erat sekali hubungannya dengan
penegakan etika yang bersumber pada hokum alam atau hokum Tuhan. Paling tidak keadilan
ekonomi mengacu kepada dua bentuk. Pertama,
keadilan dalam distribusi pendapatan. Kedua,
persamaan menghendaki setiap inidvidu harus memiliki kesempatan yang sama
terhadap akses-akses ekonomi.
Berkaitan
dengan keadilan ekonomi, Syed Nawab Haidar Naqwi merincikan empat poin penting.
Pertama, pandangan Islam terhadap
keadilan social ekonomi dilandaskan pada prinsip bahwa semua yang ada di alam
semesta ini milik Allah. Sebagai khalifah, Allah member wewenang untuk
mengelola dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan seluruh makhluk. Kedua, sementara tidak henti-hentinya
menggalakkan mekanisme pendistribusian kembali pendapatan. Ketiga, keadilan social dalam Islam berakar pada keimanan manusia.
Sungguh, keimanan manusia kepada Tuhan menimbulkan adanya suatu kewajiban
otomatis untuk berbuat adil. Keempat, secara
filosofis, konsep keadilan social berlandaskan atas pandangannya mengenai
sesuatu yang memaksimumkan kebahagian manusia.[29]
Implikasi
dari semua konsep yang ada harusnya ada orang-orang yang siap mengemban amanah
itu, dan mampu merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga bukan
sekedar konsep, selain pemerintah tentunya, kader HMI pun punya peranan penting
untuk melaksanakan ini, sebab sebagai mahasiswa punya fungsi sebagai agen of change dan social control.
3. Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah
alat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya,
sekalipun relatif namun kebenaran-kebenaran merupakan tonggak sejarah yang
mesti dilalui dalam perjalanan sejarah menuju kebenaran mutlak. Jadi ilmu
pengetahuan adalah persyaratan dari amal soleh. Hanya mereka yang dibimbing
oleh ilmu pengetahuan dapat berjalan diatas kebenaran-kebenaran, yang
menyampaikan kepada kepatuhan tanpa reserve kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan
ilmu pengetahuan dan iman yang dimiliki manusia bisa mencapai puncak kemanusia
yang tetinggi. Sejalan dengan itu Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya: ”Siapa yang bermaksud untuk mendapatkan
kebahagaian di dunia mestilah dengan ilmu, siapa yang bermaksud mendapat
kebahagian akhirat mestilah dengan ilmu, dan siapa yang ingin mendapatkan
kedua-duanya maka gapailah dengan ilmu”
Pentingnya ilmu
pengetahuan bagi setiap manusia, dan ini disebut dengan aspek aksiologis (nilai
guna). Adapun guna ilmu pengetahuan paling tidak ada dua yaitu:
a. Ilmu pengetahuan untuk
ilmu pengetahuan. Dengan ungkapan ini mereka ingin menunjukkan bahwa ilmu
pengetahuan merupakan tujuan pokok dari orang yang menemukannya sebagaima
paralel dengan ungkapan ”seni untuk seni, sastra untuk sastra. Bagi golongan
ini sebenarnya sangat netral dan bebas nilai. Jika ilmu itu menimbulkan dampak
yang tidak baik sesungguhnya bukan ilmu yang salah tetapi pengguna ilmu yang
tidak mempehatikan nilai-nilai etika kemanusiaan.[30]
b. Ilmu pengetahuan merupakan
alat untuk menambah kesenangan manusia dalam hidupnya sendiri dan merupakan
alat untuk meningkatkan kebudayaan dan kemajuan peradaban manusia secara
keseluruhan.[31]
Jika kembali kepada misi
HMI pada poin pertama pun yang harus dicapai untuk menaji insan cita, harus
bisa menjadi insan akademis, maka jika
hari ini banyak anggota HMI yang tidak bisa menyelesaikan akademisnya dengan
baik berarti ia sendiri sudah merusak citra HMI itu sendiri, dengan cara
menapikan tujuan yang pertama. Menjadi seorang pemimpin yang cerdas harus
menguasai berbagai disiplin ilmu. Sehingga tidak dibodoh-bodohi orang. Karena
pancaran ilmu pengetahuan yang miliki kader HMI mengarahkan dia untuk selalu
berbuat yang terbaik untuk mencapai ridha Allah SWT.
F.
Peran
Kepemimpinan Kader HMI dalam mewujudkan Masyarakat Madani
Kepemimpinan kader HMI
sangat berpengaruh pada kondisi bangsa, sebab kader-kader HMI ada disetiap
penjuru khususnya di Indonesia
ini. Mulai dari daerah sampai ibu kota
Negara. Ilmu yang dimiliki kader HMI harus diimplikasikan dalam hidup ini,
termasuk bagaimana caranya kader HMI mewujudkan masyarakat madani di Indonesia,
semua hal akan bisa dicapai dengan cara kerja keras, kesabaran dan keuletan
kader HMI dalam mengemban misi HMI itu sendiri. Sebab jika kita lihat tujuan HMI
poin ke lima
itu bertanggung jawab, dalam arti mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang di
ridhoi Allah SWT.
Pemikiran HMI dan
interpretasinya, pada wal berdirinya:
1.
Bidang Politik
Ajaran agama islam
tidak mungkin dikembangkan dan disiarkan dengan baik dan sempurna, kalau NKRI
dijajah Belanda. Oleh karena itu Proklamasi 17 Agustus 1945 harus diperhatikan,
sehingga Negara, rakyat dan bangsan Indoensia bebas dari cengkraman penjejah,
berdaulat penuh, dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
2.
Bidang ekonomi
Bangsa
Indonesia
harus dimajukan bidang material sesuai dengan hadis Nabi “Kefakiran itu mengakibatkan kekafiran” ekonominya harus dimajukan,
sehingga dapat hidup secara layak dan sempurna. Kebutuhan-kebutuhan pokok,
harus dapat dipenuhi dengan mudah dan baik tanpa kesulitan, sehingga dapat
menopang untuk beribadah dan beramal kepada Allah SWT, dengan penuh kekhusukan.
3.
Bidang pendidikan
Perkembangan
umat Islam tidak mungkin terjadi secara sempurna jika masyarakatnya bodoh. Oleh
sebab itu rakyat Indonesia
harus dididik supaya cerdas, dengan mendapatkan pendidikan yang merata. Terbebas
dari kebodohan.
4.
Bidang agama
Lafran
Pane, menginginkan agar agama Islam itu jangan hanya dimiliki mahasiswa STI
saja. Tetapi harus diikuti dan dipelajari mahaisiswa di luar STI, baik di
Yogyakarta bahkan diseluruh Indonesia.
5.
Bidang kebudayaan
Islam
menghadapi berbagai aliran kebudayaan. Pertama aliran kebudayaan barat,
diwakili Amerika, Belanda. Kedua komunisme dan sosialisme. Ketiga kebudayaan
Kristen, Katolik dan Protestan. Keempat. Aliran kebudayaan kebangsaan kebatinan
dan kesusilaan atau Hindu Jawa. Kalau kebudayaan Islam tidak bertanding,
derajat Islam akan lebih merosot, walaupun ajaran Islam serba lengkap.[32]
Setiap kader HMI
memiliki dan tangggung jawab yang sama untuk mencapai misi HMI itu sendiri,
jika tidak terjalankan dengan baik, maka bukannya kader HMI sebagai orang-orang
yang mewujudkan masyarakat madani, akan tetapi bisa saja sebagai penghalang
terciptanya masyarakat madani. Maka setiap kader HMI harus memiliki sifat
kepemimpinan yang indefenden agar tetap bisa menghadang badai yang amat besar,
yang selalu ingin menghantam kader HMI sendiri.
Peranan strategis kader
HMI dalam mewujudkan masyarakat madani agaknya lebih dipikirkan setiap kader,
sebab HMI hanya bisa menyumbangkan kader-kader pemimpin ummat dan bangsa, kalau
itu saja tidak bisa diwujudkan HMI lalu apalagi yang menjadi sumbangsih kita
untuk Negara ini, sebab mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah
menjadi target HMI sejak awal berdiri. Dan semua itu untuk mencapai masyarakat
madani yang diimpikan rakyat Indonesia.
G.
Kesimpulan
Kepemimpinan adalah
seni mempengaruhi orang lain untuk mengarahkan kemauan mereka, kemampuan dan
usaha, untuk mencapai tujuan pimpinan. Sedangkan kader adalah "sekelompok
orang yang terorganisasir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung
bagi kelompok yang lebih besar".
Secara sederhana Kader HMI adalah anggota HMI yang telah melalui proses
perkaderan, memiliki integritas yang utuh: beriman, berilmu, dan beramal saleh
sehingga siap mengemban tugas kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Sebagai kader HMI yang
selalu berhadapan dengan ummat mempunya tugas yang tertuang dalam pasal 4
yaitu: 1. Insan akademis 2. Insan pencipta 3. Insan pengabdi 4. Insan yang
bernafaskan Islam 5. Insan yang bertanggung jawab. Kondisi HMI sekarang adalah
gambaran HMI akan datang, maka kita harus mengembalikan khittoh perjuangan HMI untuk mencapai misi HMI itu sendiri,
sehingga HMI akan datang lebih makmur dan lebih dipercaya masyarakat sebagai
perpanjangan tangan untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.
Setiap kader HMI
memiliki dan tangggung jawab yang sama untuk mencapai misi HMI itu sendiri,
jika tidak terjalankan tugas itu dengan baik, maka bukannya kader HMI sebagai
orang-orang yang mewujudkan masyarakat madani, akan tetapi bisa saja sebagai
penghalang terciptanya masyarakat madani. Maka setiap kader HMI harus memiliki
sifat kepemimpinan yang indefenden agar tetap bisa menghadang badai yang amat
besar, yang selalu ingin menghantam kader HMI sendiri. Adapun pemikiran HMI
dalam mempertahankan NKRI untuk mencapai masyarakat madani ada beberapa bidang
yaitu: Bidang politik, Bidang ekonomi, Bidang pendidikan, Bidang agama, Bidang
kebudayaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Agustian. Ary
Ginanjar. Rahasia Sukses Membangun
Kecerdasan Emosi dan Spritual, Jakarta:
PT Arga, 2005
Al-Qur’an dan
Terjemahannya. Depag, 2008.
Anoraga, Pandji
dan Sri Suyati. Perilaku Keorganisasisan,
Jakarta:
Pustaka Jaya, 1995
Bagir, Haidar. Sains Islam: Suatu Alternatif? Jakarta: LSAF, 2000
Budiman. Nasir. Kepemimpinan Dalam islam, Medan: Nadia Pondation,
2003
Hasil-hasl
kongres XVII, Himpunan Mahasiswa Islam, Depok, tanggal 05-10
Mafa, Mujaddidul
Islam. Man Anaa ? (Siapa Saya) ; Mengenal
Jati Diri Untuk Menjadi Insan Kamil, Lumbung Insani : 2010
Mubiyarto. Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1990
Napospos, Bonar
Tigor, dkk. Mahasiswa Menggugat: Potret
Gerakan Mahasiswa Indonesia,
1998, Bandung:
Pustaka Hidayah, 1999
Naqvi, Syed
Nawab Haider. Etika dan Ilmu Ekonomi;
Suatu Sintesis Islami, Bandung:
Mizan, 1985
Nashif, Syekh
Mansur Ali. At-Taju al-Jami’ li U¡ul fi
A¥ad³£ ar-Rasul, (penerjemah) Bahrun Abu Bakar, Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rasulullah Saw, Bandung : Sinar Baru. 1993
Nawawi, Hadari. Kepemimpinan Menurut Islam, Yogyakarta: Gajah Mada
University Press. 2001
Rahmat,
Jalaluddin. Epistemologi dan Aksiologi
Ilmu: Perspektif Al-Qur’an, Bandung:
Rosada, 1989
Ridwan, M. Deden
dan Asep Gunawan. Demokratisasi
Kekuasaan, Bandung:
LSAF, 1999
Rue, George R.
Terry Leslie W. Dasar-dasar Manajemen, Jakarta: PT Bumi Aksara,
2005
Saidi, Ridwan. Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa
1925-1984, Jakarta:
Rajawali, 1984
Satria, Hariqo
Wibawa. Lafran Pane: Jejak dan
Pemikirannya, Jakarta:
Lingkar, 2010
Sitompul,
Agussalim. 44 Indikator Kemunduran HMI, Jakarta: Misaka Galiza,
2008
_________________.
Menyatu dengan Umat dan Menyatu dengan
Bangsa, Jakarta:
Misaka Gazila, 2008
_________________.
Pemikiran HMI dan Relevansinya dengan
Sejarah Perjuangan Bangsa Indoensia, Jakarta:
Misaka Galiza, 2008
Sutianto. Anen. Reaktualisasi Masyarakat Madani dalam
Kehidupan, Bandung:
Pikiran Rakyat, 2004
Sutianto. Anen. Reaktualisasi Masyarakat Madani dalam
Kehidupan, Bandung:
Pikiran Rakyat, 2004
Tarigan, Azhari
Akmal. Islam Bermazhab HMI, Jakarta: Kaltura, 2007
Tim Icce UIN Jakarta. Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat
Madani, Jakarta:
Prenada Media, 2000
http://bangpasya.blogspot.com/2012/07/kepemimpinan-hmi-sekarang-dan-akan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar